
KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT GAS ALAM
Beberapa kebijakan yang dilakukan Pemerintah Belanda dalam mengelola produksi dan distribusi gas alamnya antara lain sebagai berikut.
- Undang-Undang ‘Nota de Pous’
Kebijakan gas di Belanda berdasarkan undang-undang “Nota de Pous” tahun 1961 yang menyatakan bahwa eksploitasi cadangan gas Belanda harus disesuaikan dengan penjualan gas tersebut dan bahwa keamanan suplai gas jangka panjang menjadi tugas Negara. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah memerlukan Gas N.V. Nederlandse Unie (Gasunie)–fasilitas gas alam utama di Belanda– untuk beroperasi dalam kebijakan pengambilan gas yang ketat untuk menjamin keamanan pasokan jangka panjang untuk konsumen gas domestik. Khususnya, harus ada cadangan yang cukup untuk mencakup jumlah total permintaan gas domestik di Belanda selama 25 tahun ditambah komitmen ekspor yang dikontrak. Gasunie membeli gas dari Energie Beheer Nederland BV (EBN) — produsen gas alam Belanda– dan perusahaan produksi lain serta mengimpor dari negara-negara Eropa Barat. Gasunie kemudian menjual gas secara langsung ke stasiun pembangkit, konsumen industri skala besar, dan perusahaan distribusi.
2. ‘Marginal fields policy’
Gasunie juga akan memfasilitasi pengembangan lapangan baru dengan menyediakan pasar secepatnya untuk seluruh produksi gas. Kebijakan tersebut dicapai dengan kebijakan lapangan tambahan ‘marginal fields policy’ dan dicapai dengan menggunakan lapangan Groningen untuk menyeimbangkan fluktuasi pasokan musiman sehingga Gasunie dapat berproduksi dari lapangan lepas pantai yang kecil pada saat load factor.
3. Pasar bebas
Pemerintah mengambil langkah membuka pasar energi Belanda sebagai konsekuensi European Gas Directive 98/30/EC. Pasar pengguna akhir untuk pengguna industri besar dibebaskan pada 1 Januari 2003 dan pasar yang kecil dibuka pada 1 Juli 2004.
4. Sosialisasi penggunaan gas alam
Pengenalan gas alam di pasaran sukses di masa awal. Sejak itu, banyak orang Belanda beralih menjadi penjual gas. Sebelum hal itu bisa terjadi, dua kondisi syarat utama diperlukan: jaringan jalur distribusi primer dan sekunder harus tepat dan ketel uap pembakar batubara domestik harus diganti dengan ketel gas dan sistem penghangat terpusat. Gas alam sebagian besar diterima sebagai pertanda kemakmuran. Dalam waktu 20 tahun, Belanda menjadi konsumen terbesar gas alam di dunia, mencakup 98% di sektor domestik dan kira-kira 50% suplai energi primer, kondisi yang belum tersaingi oleh Negara lain.
5. Small fields policy
Sosialisasi gas alam yang cepat tidak hanya menaikkan popularitasnya tetapi juga menaikkan permintaan. Riset kemudian dimulai untuk lapangan gas lain. seperti di Drenthe, Overijssel, Friesland, dan belasan tempat lain di bawah Laut Utara. Meskipun tidak ada satupun dari tempat tersebut yang melebihi kapasitas lapangan Groningen, jika dikumpulkan, kapasitas lapangan-lapangan tersebut dapat mencapai ratusan milyar m3 gas.
Lapangan-lapangan kecil tersebut terbukti cukup mahal dieksploitasi. Perlu sejumlah besar survei eksplorasi, operasi pengeboran eksplorasi dan penggunaan unit produksi biaya tinggi. Dalam usaha mencari cara yang lebih efektif untuk mengambil cadangan menjadi produksi, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan lapangan gas kecil (small fields policy). Kebijakan itu cukup sederhana dan efektif. Sebagai tambahan, ditawarkan insentif pajak yang menarik, produsen diberikan garansi penjualan. Kebijakan itu terbukti mencapai sukses besar dan berlanjut hingga sekarang. Selama bertahun-tahun, kesuksesan pemerintah dan parlemen Belanda telah mengesahkan dan menguatkan kembali kebijakan itu.
Parlemen Belanda mensosialisasikan gas alam kepada perusahaan-perusahaan minyak di tahun 1970 untuk mengeksplorasi dan mengembangkan akumulasi yang lebih kecil, untuk memperpanjang umur lapangan Groningen. Kebijakan tersebut terbukti sangat sukses, dan banyak lapangan yang lebih kecil ditemukan, dengan volume gas terambil cukup besar. Akibatnya, lebih dari 50% cadangan gas alam di Uni Eropa masih diproduksi dari wilayah Belanda, dengan sekitar 2/3-nya berasal dari lapangan Groningen. Groningen digunakan sebagai kapasitas cadangan sehingga jika permintaan lokal maupun untuk ekspor melebihi suplai dari lapangan kecil, lapangan Groningen yang besar dapat menutupi kekurangannya.
Di akhir tahun 1980an, kira-kira 50% sumber lapangan Groningen telah diambil, menggunakan mekanisme pengaturan deplesi gas standar. Untuk memastikan eksploitasi yang berkelanjutan dan efisien, NAM memutuskan untuk mengubah sistem pengaturan kompresi gas, menggunakan kompresor yang digerakkan listrik untuk mendorong gas keluar dari reservoir.
Peta sebaran gas alam di Belanda
http://www.gasterra.com/naturalgas/Pages/NaturalgasintheNetherlands.aspx
7. Underground gas storage
Permintaan gas sangat berfluktuasi, tapi produksi optimum dari lapangan gas membutuhkan tekanan tetap dan tinggi. Sejak lebih dari 50% lapangan Groningen diambil, tekanan alami menurun dan tidak cukup lagi untuk menyuplai volume yang dibutuhkan saat permintaan puncak.
Untuk memenuhinya dan menjamin pengambilan optimum dan umur lapangan, penyimpanan gas bawah tanah dikembangkan, menggunakan dua lapangan gas kecil di sebelah barat Groningen, Norg dan Grijpskerk. Selama musim panas, gas alam yang sedang sepi permintaan, diinjeksikan ke dalam batuan reservoir yang diambil di lapangan tersebut. Hal itu meningkatkan tekanan reservoir pada fasilitas penyimpanan sehingga dapat memproduksi gas alam lebih cepat seperti yang diperlukan selama musim dingin berikutnya.
PERAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI EKSPLOITASI GAS ALAM DI BELANDA TERHADAP IPTEK DUNIA
- Pengembangan teknologi pemanfaatan gas di Groningen merupakan pelopor dalam inovasi teknologi eksplorasi dan eksploitasi hidrokarbon yang berlanjut hingga sekarang. Di tahun 1970an dan 1980an telah berkembang teknologi kebumian berupa penggambaran lapangan gas yang lebih baik, penggambaran sesar dan pengaruh terhadap penilaian volume. Sedangkan di tahun 1990an tercapai penggambaran bawah laut, dan prediksi utama sifat reservoir. Setelah 50 tahun berproduksi, integrasi teknologi terakhir di semua disiplin ilmu bawah permukaan (subsurface) menjadi sangat penting untuk strategi produksi dan rencana pengembangan lapangan di masa depan
2. Lapangan gas Groningen merupakan pelopor dalam pendalaman sumur produksi , di samping penggunaan teknik liquefaksi baru dan penggunaan kapal-kapal LNG yang lebih efisien karbon dan lebih besar telah membuat bahan bakar lebih portable melintasi seluruh dunia.
3. Di Groningen ditemukan fakta awal bahwa Sesar reservoir merupakan faktor penting dalam produktivitas sumur gas. Hal itu dapat membatasi aliran gas menuju arah tertentu. Akibat pemisahan tersebut dan tekanan yang turun, perlu dikembangkan fasilitas sumur yang tepat untuk menjamin perolehan maksimum. Ilmu kebumian yang dikembangkan membantu mengidentifikasi dan mengeksploitasi seluruh bagian lapangan
4. Keputusan mengkonservasi lapangan Groningen sementara mengembangkan lapangan kecil akan memungkinkan generasi mendatang menikmati keuntungan suplai energi yang cukup besar dan aman.
5. Jangka waktu eksploitasi yang lebih panjang memungkinkan teknologi dan inovasi semakin maju dalam produksi, sehingga perolehan maksimum dapat tercapai. Saat daya tarik terhadap sumber hidrokarbon alternatif berkembang, terbukti minyak berat dan gas yang rapat terdapat di bawah Groningen, sehingga infrastruktur modern yang telah ada akan dapat memfasilitasi ekstraksi.
Sumber:
http://www.gasterra.com/naturalgas/Pages/NaturalgasintheNetherlands.aspx












